Sabtu, 30 Mei 2015

Sebut Saja Puisi

Dua tahun ternyata belum cukup untuk membuat dia melupakan aku. Aku tak begitu paham, apa yang jadi alasan utamanya. Yang aku tau, saat itu dia pergi tanpa peduli. Tanpa perasaan. Aku malah berpikir dia tak punya hati. Patah hati. Sudah jelas itu yang kurasakan. Tapi Tuhan sayang sekali denganku. Tuhan sadarkan aku bahwa aku tak perlu bersedih. Tuhan seolah berkata "Kau masih punya banyak teman, sahabat, orang-orang yang selalu ingin bersamamu". Aku beruntung aku punya banyak sahabat yang selalu menghiburku. Membuat suasana yang hangat yang mampu membuat aku melupakan sejenak kesedihanku. Bisa karena biasa. Ya, aku merasa sudah terbiasa dengan suasana hati yang menyenangkan kala itu. Hingga tak membutuhkan waktu lebih banyak lagi untuk segera bangkit.
Aku menyadari bahwa hal ini benar-benar amat sangat bodoh. Tak penting. Tak cukup alasan untuk menangisinya. Bukan tentang hati yang tak lagi sakit, tapi lebih kepada logika yang akhirnya angkat bicara. Ada begitu banyak lelaki lain. Yang tanpa dia sadari, sangat menginginkan posisinya. Aku tau aku tak perlu merana, karena semua orang pun tau pasti, aku hanya kehilangan orang yang aku sayang. Tapi dia... dia kehilangan seseorang yang sangat menyayanginya. Kembali ke kalimat pertama. Tentang dia yang tak kunjung bisa melupakan aku. Aku tau akan hal ini beberapa hari yang lalu. Dia kembali datang ke kehidupanku. Aku berpikir apa salahnya menjalin pertemanan, tapi nampaknya dia ingin lebih. Nampaknya dia datang kembali karena belum berhasil melupakan aku. Aku yakin dia menyesal pernah menyakitiku. Tapi aku sudah cukup puas akan hal itu. Aku bersyukur aku tak memiliki niat untuk membalasnya. Seseorang pernah memberikan pendapatnya padaku, "Pasti akan sangat menyenangkan jika sekarang kau yang melakukan hal yang dulu ia lakukan padamu. Ini saat yang tepat untuk balas dendam. Kau terima dia seperti dulu. Layaknya lirik lagu, kau terbangkan dia, saat dia berada di puncak kebahagiaan karena bisa bersamamu lagi, saat itulah kau bisa menjatuhkannya. Jatuh. Jatuh sejatuh-jatuhnya". Oh Tuhan, aku sangat berterima kasih kau fungsikan hati nuraniku dengan benar. Kau fungsikan hati nurani ini sesuai dengan apa yang memang seharusnya. Mungkin dia akan merasakan sakit karena aku tak bisa menerimanya, tapi yang aku tau sakit itu tak akan sama dengan yang dulu pernah kurasakan. Dia hanya akan merasa menyesal dan kecewa sebentar sebelum akhirnya bisa menemukan sosok wanita lain yang jauh lebih baik dan lebih pantas bersamanya. Selamat berjuang kuucapkan, maaf untuk semuanya. Aku harap kita masih bisa berteman. Jangan sampai rasa benci itu tumbuh di hati masing-masing dari kita. Selamat menjalankan hidup seperti biasa. Lupakan aku dan semua kenangan yang belum pergi. Terima kasih telah mencoba. Sampai berjumpa dengan hati yang lebih baik :)


NB: Maaf pemirsa, ini sesi randomnya kumat. Makasih udah mau baca. Gadis kecil ini sudah jadi wanita muda. Sudah benar-benar paham bagaimana seharusnya mengikuti kata hati :D :)

19 komentar:

  1. Asik nih. Kalau sudah maju, pantang mundur ya. :D (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maju ke mana, Kak? Haha. But okesip! :D

      Hapus
  2. Apakah ini masih lanjutan dari cerita randoman tentang lelaki yang dulu-dulu itu? yang ada makan temennya? O_o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang makan temen? yang mana Haw? -_-

      Hapus
    2. Itu... yang gebetan malah jadian ama temen. *eh, aku baca di sini bukan ya*

      Hapus
  3. benar sekali mba, buat apa kita harus balas dendam dengan apa yang pernah dilakukan nya yang membuat kita sakit hati.. toh dia juga akhirnya merasakan penyesalan dan sakit hati meskipun kita tidak balas dendam ;)

    BalasHapus
  4. mampir dong ke http://wahyumuci.blogspot.com/

    BalasHapus
  5. Hai gadis kecil yang kini telah menjadi wanita muda :D

    Suka baca tulisannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai juga kakak Wkwk. Maacih udah mau baca :p

      Hapus
  6. Alhamdullilah, Allah sudah memfungsikan hati Nuranimu dengan benar, sesungguhnya membalas dendam itu tidak semenyenangkan seperti apa kata mereka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener. Alhamdulillah. Kayaknya udah pengalaman ya? :D

      Hapus
  7. Hmm, hal yang paling menyebalkan itu ketika kita harus melupakan seseorang atau semua kenangan :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau setelah melupakannya hidup kita jadi lebih bahagia, kenapa tidak?

      Hapus
  8. Iya udah iklaskan aja yakk . . move-on . .
    Gue pernah berada di posisi si "dia" sih . . baca ini malah gue ngerasa berdosa banget . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha maaf ya bikin flashback. Yaudah yg terbaik skrg gak usah inget inget masa lalu lagi :D

      Hapus
  9. bagus banget mba ceritanya..
    jangan pernah deh sia"in orang yang sayang banget sama kita, ntar akhirnya bisa nyesel lho :D

    BalasHapus
  10. sebut saja mawar wkwk. eniwei, cepat move on yo

    BalasHapus

Jadilah blogwalker yg baik dan jangan jadi silent reader.. Berkomentarlah sebelum diharamkan.. No Spamming, No SARA. karena udah aku setting NO CAPTCHA :* (@tutiarahmi_)